
PALI, Girpos.com – Sebuah ironi dan tragedi kemanusiaan yang mendalam mencoreng wajah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Di tengah riuhnya sorotan publik pasca-Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menyeret Wakil Bupati PALI dalam pusaran kasus dugaan korupsi, sebuah peristiwa memilukan terjadi di akar rumput.
Seorang pelajar berusia 18 tahun ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri. Kuat dugaan, korban nekat mengakhiri hidupnya karena mengalami tekanan mental hebat akibat tunggakan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang tak kunjung terbayar.
Dua peristiwa ini menghadirkan kontras yang sangat menyakitkan bagi masyarakat. Di satu sisi, elite politik diduga terjerat praktik korupsi demi keuntungan pribadi. Di sisi lain, seorang anak bangsa yang merupakan aset masa depan daerah harus kehilangan nyawa hanya karena keterbatasan ekonomi demi mengakses hak paling mendasar: pendidikan.
Menanggapi situasi kritis ini, Himpunan Mahasiswa PALI (HIMAPALI) menyampaikan duka cita mendalam sekaligus melayangkan kritik keras kepada Pemerintah Daerah (Pemda) PALI. HIMAPALI menilai tragedi ini adalah hantaman keras bagi dunia pendidikan di Bumi Serasan Seundang.
Ketua Umum HIMAPALI, Aki Musholah, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus membuka mata dan tidak lagi bersikap abai. Ia menyoroti program “Beasiswa PALI” yang selama ini dijanjikan pemerintah, namun hingga kini dinilai hanya menjadi “macan kertas” yang tak kunjung terealisasi.
”Ini adalah tamparan keras bagi Pemda PALI. Sangat ironis, di saat anggaran daerah diduga mengalir ke kantong-kantong koruptor hingga menyeret Wakil Bupati dalam kasus OTT, ada anak daerah yang harus mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membayar SPP,” ujar Aki dengan nada geram.
Aki mendesak Pemda untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. “Ke mana realisasi beasiswa yang selama ini digaungkan? Jangan biarkan nyawa anak-anak kita melayang hanya karena kelalaian pemerintah dalam memenuhi hak pendidikan warganya,” tambahnya.
Sebagai langkah nyata agar tragedi serupa tidak terulang, HIMAPALI berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal isu pendidikan di PALI. Organisasi mahasiswa ini secara resmi membuka kanal advokasi bagi pelajar, mahasiswa, maupun orang tua yang mengalami tekanan serupa.
”Kepada seluruh pelajar yang saat ini menghadapi tekanan psikologis, intimidasi pihak sekolah terkait tunggakan, atau kendala biaya: jangan memendam masalah ini sendirian. Kami siap berdiri bersama kalian,” tegas perwakilan HIMAPALI.
Melalui kanal ini, HIMAPALI menyediakan pendampingan berupa Advokasi ke Sekolah/Dinas guna Menjadi mediator agar pelajar mendapatkan keringanan biaya tanpa intimidasi dan solidaritas Finansialyan mengupayakan bantuan darurat melalui jaringan alumni dan kelembagaan serta memberikan pendampingan moral dan mental bagi pelajar yang merasa putus asa.
Bagi warga yang membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan kendala pendidikan, dapat menghubungi:
Hotline Pengaduan & Advokasi: 0813-7445-8501
Instagram: @himapalisumsel.official
Email: himapalisumsel25@gmail.com
Sekretariat: (Dapat disesuaikan)
Karena Pendidikan adalah hak setiap warga negara yang dilindungi undang-undang. HIMAPALI mendesak Pemda PALI untuk segera mencairkan program beasiswa yang tertunda dan menjamin tidak ada lagi anak PALI yang putus sekolah, apalagi kehilangan nyawa hanya karena masalah biaya. Mari saling menjaga, karena PALI adalah rumah kita bersama.
Laporan : Deni Gustari..






