JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk kebijakan transformasi aparatur sipil negara (ASN) yang sedang bergulir, sebuah suara lirih namun penuh keteguhan kembali menggema dari pelosok negeri. Melalui Surat Terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia ke-8, Bapak Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto, ratusan ribu Guru Madrasah Swasta di Seluruh Indonesia menyampaikan jeritan hati yang selama ini terpendam. Surat ini bukan ultimatum politik atau tuntutan hak istimewa, melainkan curahan rasa manusia-manusia biasa yang setiap pagi mengenakan pakaian sederhana, tersenyum di depan murid meski beban rumah tangga menghimpit, dan tetap mengajar di ruang kelas sempit tanpa jaminan masa depan yang pasti. Dengan kalimat penutup yang menyayat “Jangan biarkan guru yang mengajarkan harapan justru kehilangan harapan untuk dirinya sendiri”mereka menegaskan satu identitas mutlak: KAMI JUGA GURU INDONESIA.
Tiga Permohonan Keadilan, Bukan Keistimewaan:
Inti dari surat terbuka ini adalah tiga permohonan fundamental yang lahir dari kerendahan hati, bukan keserakahan.
Pertama, perhatian yang lebih adil dalam seluruh kebijakan transformasi ASN, pengangkatan, dan status kepegawaian di lingkungan pendidikan; guru madrasah swasta tidak boleh lagi menjadi “anak tiri” saat rekan sejawat di instansi lain mendapatkan kepastian.
Kedua, jaminan kesejahteraan yang layak dan setara, agar guru tidak lagi dihadapkan pada pilihan tragis antara memenuhi kebutuhan keluarga atau bertahan dalam pengabdian.
Ketiga, penghapusan sekat diskriminatif dalam memandang pengabdian; karena anak negeri tetaplah anak negeri, dan guru yang mendidik mereka entah di sekolah negeri maupun madrasah swasta tetaplah Guru Indonesia. Mereka menekankan bahwa ketika seorang alumni madrasah berhasil menjadi dokter, ulama, atau pemimpin bangsa, di balik kesuksesan itu ada guru yang namanya tak pernah dikenal, namun tetap percaya bahwa muridnya akan berguna bagi nusa dan bangsa.
Para Penjaga Ilmu yang Tak Terlihat Kamera:
Protagonis dalam narasi ini adalah seluruh Guru Madrasah Swasta di Seluruh Indonesia, sosok-sosok yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendidik anak-anak bangsa di desa-desa terpencil, jauh dari sorotan kamera dan gemerlap penghargaan. Mereka adalah orang-orang biasa yang tetap berangkat ke madrasah meski kendaraan bermasalah, fasilitas terbatas, dan hujan turun deras.
Di sisi penerima aspirasi adalah Presiden Prabowo Subianto selaku pemimpin tertinggi yang memegang kunci kebijakan strategis. Surat ini juga merupakan respons kolektif terhadap dinamika perbaikan nasib tenaga honorer di sektor lain yang mulai mendapat angin segar, sementara guru madrasah swasta masih bertanya-tanya: “Sampai kapan masa depan kami tidak pasti?” Tokoh-tokoh perwakilan guru bertindak sebagai penyampai pesan moral ini, mengingatkan bahwa di balik setiap guru madrasah ada keluarga yang menunggu kepastian dan anak-anak yang menggantungkan masa depan.
Momentum Transformasi ASN sebagai Titik Kritis:
Surat terbuka ini disampaikan tepat pada momen krusial ketika kebijakan transformasi ASN sedang berjalan masif, menciptakan euforia sekaligus kecemasan bagi mereka yang belum tersentuh. Waktu penyampaian sangat strategis: saat harapan akan perbaikan nasib sedang tinggi-tingginya, namun realitas menunjukkan adanya kesenjangan implementasi antar-sektor.
Lokasi penyampaian bersifat simbolis dan substansial: ditujukan ke Istana Negara/Jakarta sebagai pusat pengambilan keputusan, namun mewakili kondisi riil di ribuan madrasah swasta yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, terutama di wilayah-wilayah yang jarang tersentuh pembangunan infrastruktur pendidikan. Momentum ini dipilih karena jika tidak disuarakan sekarang, dikhawatirkan celah kebijakan akan tertutup permanen, meninggalkan jutaan guru madrasah swasta dalam ketidakpastian abadi. Ini adalah panggilan terakhir sebelum pintu negosiasi legislasi kepegawaian benar-benar terkunci.
Karena Indonesia Emas 2045 Dibangun oleh Karakter, Bukan Hanya Gedung Tinggi:
Mengapa guru madrasah swasta merasa perlu mengirim surat terbuka di saat yang bersamaan dengan perbaikan status honorer lain? Karena mereka percaya bahwa Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun oleh gedung tinggi, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh guru-guru yang setiap hari menanamkan karakter kepada anak-anak bangsa—dan sebagian besar dari mereka berada di madrasah swasta. Pertanyaan retoris “Pernahkah negara bertanya kepada guru madrasah swasta: Apakah gajimu cukup untuk hidup?” bukanlah keluhan emosional semata, melainkan gugatan eksistensial terhadap sistem pendidikan nasional. Jika tujuan akhirnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk generasi berakhlak mulia, maka membiarkan guru madrasah swasta hidup dalam ketidakpastian adalah kontradiksi terhadap visi Indonesia Emas.
Tanpa kepastian status dan kesejahteraan, api semangat mengajar berisiko padam, meninggalkan jutaan siswa di daerah terpencil tanpa pendidik berkualitas. Keadilan bagi guru madrasah adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan pendidikan karakter nasional.
Dari Surat Terbuka Menuju Kehadiran Negara yang Nyata:
Bagaimana mekanisme advokasi ini diharapkan berdampak nyata? Dimulai dengan penyampaian surat terbuka yang dirancang bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai undangan dialog konstruktif bagi Presiden untuk menyusun kebijakan pendidikan dan kepegawaian yang lebih inklusif.
Langkah selanjutnya adalah integrasi aspirasi ke dalam pembahasan regulasi transformasi ASN di Kementerian PANRB, Kementerian Agama, dan Istana, sehingga guru madrasah swasta memiliki jalur jelas menuju PNS atau PPPK penuh waktu dengan hak setara. Guru madrasah siap membuktikan komitmennya dengan terus berkarya tenang asalkan negara hadir menghargai pengabdian mereka.
Hasil yang diharapkan adalah lahirnya ekosistem pendidikan yang adil, di mana nama Guru Madrasah Swasta disebut saat negara berbicara tentang guru, diperhitungkan saat membahas kesejahteraan, dan diajak berjalan bersama saat menyusun masa depan pendidikan. Seperti tertulis dalam penutup surat.
“Jika suatu hari seorang anak madrasah berdiri di podium dan berkata ‘Saya bisa sampai di sini karena guru saya tidak pernah menyerah, kami ingin guru itu juga bisa berkata kepada keluarganya: ‘Negara ternyata tidak melupakan kita’.
Dengarkan Suara Kecil dari Pelosok Negeri:
Surat Terbuka Guru Madrasah Swasta adalah cermin kejujuran yang harus dibaca dengan hati oleh setiap pemegang kebijakan. Ketika jutaan guru bertanya “Lalu, bagaimana dengan kami?”, mereka sedang menguji integritas sistem pendidikan nasional kita. Kepada Presiden Prabowo Subianto: dengarlah suara kecil dari pelosok negeri ini bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai fondasi moral bagi Indonesia Emas 2045 yang sesungguhnya. Kepada seluruh elemen bangsa: dukunglah perjuangan guru madrasah swasta, karena mereka adalah penjaga ilmu, karakter, dan masa depan bangsa yang bekerja dalam keheningan. Keadilan bagi guru madrasah bukan hadiah, melainkan utang negara yang harus dilunasi demi martabat pendidikan Indonesia. Semoga negara hadir. Semoga kebijakan berpihak kepada keadilan. Semoga tidak ada lagi guru yang mengajarkan masa depan sambil mencemaskan masa depannya sendiri.
(Sami’an)






