Headline

PENDIDIKAN ADALAH KERJA SAMA: GANDENGAN TANGAN MADRASAH DAN RUMAH UNTUK GENERASI EMAS MTs MUHAMMADIYAH 20 MENONGO

28
×

PENDIDIKAN ADALAH KERJA SAMA: GANDENGAN TANGAN MADRASAH DAN RUMAH UNTUK GENERASI EMAS MTs MUHAMMADIYAH 20 MENONGO

Sebarkan artikel ini

Girpos.com SUKODADI, LAMONGAN –27/07/2026 Sebuah pesan mendalam dan penuh makna kembali menggema di lingkungan keluarga besar MTs Muhammadiyah 20 Menongo, Sukodadi, Lamongan. Pesan ini mengingatkan kembali akan satu fondasi utama dalam mencerdaskan anak bangsa: bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri di ruang kelas, melainkan buah dari sinergi kuat antara upaya pendidik di madrasah dan dukungan penuh dari lingkungan rumah.

Berangkat dari sebuah kalimat sederhana namun menyentuh hati: “Guru tidak bisa mengubah anak dalam 6 jam di sekolah, jika 18 jam sisanya tidak mendapat dukungan dari rumah”, seluruh elemen warga madrasah diajak merenungkan kembali peran masing-masing dalam membentuk karakter peserta didik.

Pembagian Waktu yang Menentukan Karakter
Dalam satu hari yang terdiri dari 24 jam, para siswa MTs Muhammadiyah 20 Menongo menghabiskan rata-rata 6 jam di lingkungan madrasah. Selama waktu tersebut, para guru berjuang sekuat tenaga menanamkan nilai-nilai luhur: mulai dari menghafal Al-Qur’an, menguasai ilmu pengetahuan umum dan agama, membangun kedisiplinan, melaksanakan ibadah sholat dhuha berjamaah, hingga menanamkan akhlak mulia dan semangat keislaman serta kemuhammadiyahan. Guru hadir sebagai teladan, pembimbing, dan fasilitator yang berupaya menguatkan iman setiap anak didiknya.

Namun, pertanyaan krusial kemudian muncul: Bagaimana dengan 18 jam sisa waktu yang dihabiskan anak di rumah?

Di wilayah Menongo, Sukodadi, dan sekitarnya, 18 jam tersebut menjadi waktu panjang yang diisi dengan bangun pagi, istirahat, pergaulan, penggunaan gawai, kebiasaan ibadah, serta interaksi langsung dengan Ayah dan Bunda tercinta. Di rentang waktu inilah karakter asli seorang anak sesungguhnya ditempa dan terbentuk.

Konsistensi Nilai: Jembatan Antara Madrasah dan Rumah

Narasi ini menegaskan bahwa tanpa kesatuan visi, nilai-nilai yang ditanamkan di madrasah akan mudah pudar. Madrasah mungkin telah mengajarkan anak untuk rajin melaksanakan sholat sunnah dan tahajud, namun hal itu akan sulit bertahan jika di rumah tidak ada yang membangunkan atau mengingatkan. Demikian pula halnya dengan adab sopan santun; apa yang diajarkan di kelas hanya akan menjadi hafalan belaka jika di lingkungan rumah anak menyaksikan contoh ketidaksopanan atau bentakan.

Nilai jujur dan amanah – sebagai ciri khas Muhammadiyah – pun akan kehilangan maknanya jika tidak didukung oleh keteladanan orang tua di rumah.

Empat Pilar Kerja Sama yang Kokoh

Oleh karena itu, keluarga besar MTs Muhammadiyah 20 Menongo menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak saja. Agar tercipta kesatuan langkah, dirumuskan empat pilar utama kerja sama madrasah dan rumah:

1. Komunikasi yang Nyambung: Terjalin dialog terbuka antara wali kelas dan orang tua. Tidak saling menyalahkan ketika ada kendala, melainkan duduk bersama untuk mencari solusi terbaik bagi perkembangan anak.
2. Dukungan yang Konsisten: Aturan dan kedisiplinan yang diterapkan di madrasah, seperti jam belajar, penggunaan gawai, dan waktu ibadah, ditegakkan pula secara serentak di rumah dengan satu suara.
3. Kebiasaan Positif di Rumah: Orang tua menjadi cermin utama bagi anak. Membiasakan diri membaca, mengaji, berbicara santun, dan saling menghargai menjadi pendidikan visual yang paling kuat bagi siswa.
4. Doa dan Perhatian Tanpa Henti: Di atas segala usaha manusiawi, doa orang tua diposisikan sebagai senjata paling ampuh untuk meluruskan hati dan langkah anak-anak menuju kebaikan.

Berhenti Saling Menyalahkan, Mulai Saling Menguatkan

Dalam pesan ini, disampaikan pula pemahaman bahwa guru bukanlah pesulap yang bekerja dalam keajaiban; mereka berjuang mendidik puluhan anak dengan beragam latar belakang dalam waktu terbatas. Demikian pula orang tua, bukanlah sosok sempurna tanpa lelah, namun memegang peran vital sebagai pendamping utama di 18 jam kehidupan anak sehari-hari.

“Jangan salahkan guru jika anak kurang disiplin sementara di rumah tidak ada waktu untuk murojaah. Jangan pula menyalahkan orang tua jika anak kurang semangat sementara di madrasah kurang perhatian,” demikian poin penting yang disampaikan.

Menuju Generasi Berilmu, Beramal, dan Berakhlak

Penutup pesan ini mengajak seluruh komponen untuk saling menguatkan: madrasah mengokohkan nilai, rumah melengkapi dengan kasih sayang; guru mengajar dengan tulus, orang tua mendampingi dengan setia. Target akhirnya satu: melahirkan generasi dari MTs Muhammadiyah 20 Menongo yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sholeh dan sholehah di rumah serta masyarakat, serta menjadi kebanggaan keluarga, daerah Lamongan, dan bangsa Indonesia.

“Pendidikan adalah kerja sama, bukan hanya tugas sekolah.” Semangat mencerdaskan anak bangsa terus digelorakan bersama-sama, karena lelah dan usaha kita hari ini sedang membangun peradaban Islam yang berkemajuan, dimulai dari Menongo yang kita cintai.(sai’ an)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top