Headline

WGrebeg Suro PASTALA ke-XI 2026: Ribuan Seniman Tradisional Lamongan Bersatu di Ngimbang Lestarikan arisan Leluhur

33
×

WGrebeg Suro PASTALA ke-XI 2026: Ribuan Seniman Tradisional Lamongan Bersatu di Ngimbang Lestarikan arisan Leluhur

Sebarkan artikel ini

Girpos.com LAMONGAN – Semangat menjaga warisan budaya kian membara di bumi Lamongan. Paguyuban Seniman Tradisional Lamongan (PASTALA) sebagai rumah besar ribuan pelaku seni di daerah ini siap menggelar Tasyakuran dan Ritual Sesaji Grebeg Suro PASTALA ke-XI Tahun 2026. Acara akan berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai, di kawasan Dusun Bakon, Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.

Momen tahunan ini bukan sekadar perayaan, melainkan bukti nyata kebersamaan para seniman untuk mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, sekaligus meneguhkan tekad menjaga dan melestarikan budaya leluhur di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggeser nilai tradisi.

Rumah Besar Seniman Tradisional Lamongan

PASTALA menjadi wadah persatuan bagi ribuan seniman yang tersebar di seluruh penjuru Kabupaten Lamongan, mewakili beragam cabang kesenian asli daerah. Mulai dari seni pewayangan, tayub, campursari, jaranan, hingga berbagai seni rakyat dan budaya luhur lainnya yang menjadi identitas tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Lamongan.

Lebih dari sekadar tempat berkumpul, PASTALA berperan sebagai ruang komunikasi, koordinasi, pembinaan, sekaligus perjuangan bersama agar seni tradisional tetap mendapat tempat yang layak, diperhatikan, dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Dipimpin Bagas Puji Pangestu, Terus Perluas Ruang Seni

Di bawah kepemimpinan Ketua PASTALA, Bagas Puji Pangestu, organisasi ini terus menjalin sinergi luas dengan pemerintah daerah, jajaran kecamatan, hingga komunitas budaya di berbagai wilayah. Tujuannya tak lain adalah membuka ruang ekspresi yang lebih luas bagi para seniman tradisional Lamongan.

Berulang kali Bagas Puji Pangestu menyampaikan harapan agar pemerintah daerah semakin memperhatikan nasib pelaku seni, baik melalui program pembinaan berkelanjutan, dukungan penyelenggaraan pertunjukan, maupun pengakuan formal terhadap seni tradisional sebagai aset kebanggaan daerah.

Jejak Langkah PASTALA: Aktif Bergerak Lestarikan Budaya

Selain Grebeg Suro yang menjadi agenda puncak, PASTALA rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, mulai dari pentas seni di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Organisasi ini juga menjadi mitra strategis dalam berbagai agenda besar pelestarian budaya di Lamongan.

Bahkan, PASTALA telah menjalin koordinasi erat dengan Muspika di berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Kedungpring, guna menjamin kelancaran dan kondusivitas setiap kegiatan budaya yang digelar. Sebelumnya, organisasi ini juga pernah menggelar deklarasi seniman di kawasan Wisata Waduk Gondang, Kecamatan Sugio — sebuah momen penting untuk menyuarakan aspirasi dan memperkuat konsolidasi seluruh anggota.

Grebeg Suro ke-XI: Simbol Syukur dan Komitmen Budaya

Tahun ini, Grebeg Suro PASTALA memasuki usia penyelenggaraan ke-11 dengan mengusung tema: “Mempererat Tali Persaudaraan Antar Seniman Bersama Menjaga Budaya Leluhur”.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tasyakuran dan ritual sesaji sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penghormatan mendalam terhadap jejak dan ajaran leluhur. Kemeriahan semakin terpancar lewat penampilan beragam seni tradisional: atraksi jaranan, tarian daerah, alunan campursari, hingga seni rakyat lain yang dibawakan langsung oleh seniman dari berbagai pelosok Lamongan.

Tak kalah menarik, prosesi ini juga dihiasi gunungan hasil bumi, tumpeng, dan simbol-simbol adat yang sarat makna — lambang rasa syukur atas rezeki serta harapan agar budaya Lamongan senantiasa lestari di masa depan.

Menjaga Tradisi Tetap Hidup di Tengah Zaman

Di tengah gempuran teknologi dan perubahan gaya hidup, keberadaan PASTALA menjadi sangat vital. Melalui pembinaan, regenerasi seniman, dan kolaborasi lintas pihak, organisasi ini berupaya memastikan budaya lokal tidak sekadar tersimpan dalam ingatan, melainkan terus hidup, berakar, dan dicintai oleh generasi muda.

PASTALA pun berperan sebagai jembatan antara pelaku seni, pemerintah, dan masyarakat luas, agar seni tradisional dilihat bukan sekadar hiburan, melainkan jati diri bangsa yang wajib dijaga bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top