
PALI, Girpos.com – Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Mambaul Ulum pada hari ini. Lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Yayasan Al-Falahiyah tersebut sukses menggelar acara Pelepasan Siswa-Siswi SDIT Angkatan ke-IV dan MTs Al-Falahiyah Angkatan ke-VIII untuk Tahun Ajaran 2025/2026.

Acara ini bukan sekadar momentum perpisahan, melainkan juga panggung apresiasi bagi santri berprestasi serta titik balik perjuangan infrastruktur pesantren di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Momen paling menyentuh terjadi saat pengumuman peringkat juara umum. Destiani, salah satu santriwati berprestasi, tidak mampu menyembunyikan rasa tidak percayanya saat namanya dipanggil sebagai Juara I. Langkah kakinya gemetar menuju panggung, terlebih ketika Anggota DPRD Kabupaten PALI, Firdaus Hasbullah, S.H., M.H., yang hadir dalam acara tersebut, langsung memberikan hadiah kejutan berupa beasiswa pendidikan.

”Pertamanya aku enggak tahu kalau mau dapat peringkat ini. Kata teman-teman aku enggak dapat, tapi pas datang ternyata juara satu. Dan tidak menyangka-nyangka ada Pak Firdaus yang memberikan beasiswa,” ungkap Destiani dengan mata berkaca-kaca saat diwawancarai seusai acara.
Beasiswa yang diberikan tidak main-main. Destiani mendapatkan bantuan dana pendidikan sebesar Rp500.000 per bulan yang akan dikucurkan secara konsisten selama tiga tahun penuh.
”Senang sekali, uang ini bisa untuk tambahan biaya pondok. Insyaallah saya akan melanjutkan sekolah di sini saja, lanjut mondok. Terima kasih banyak untuk Pak Firdaus atas bantuannya. Uang ini akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk keperluan pribadi selama saya menimba ilmu di pesantren,” tambah Destiani.
Kehadiran Firdaus Hasbullah, S.H., M.H., dalam acara wisuda ini membawa angin segar bagi dunia pendidikan keagamaan di Kabupaten PALI. Dalam orasi dan wawancaranya, politisi senior ini menegaskan komitmen legislatif untuk menyelaraskan program daerah dengan visi-misi Bupati PALI dalam memerangi buta aksara Al-Qur’an.
”Hari ini saya hadir langsung di Pesantren yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Maryadi, yang juga dihadiri Ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten PALI. Kita harus ingat visi-misi Pak Bupati, beliau ingin memerangi buta aksara Al-Qur’an. Artinya, peran pondok pesantren, MTS, dan Diniyah di sini sangat krusial dalam menyukseskan program tersebut,” tegas Firdaus.
Melihat kontribusi besar tersebut, Firdaus mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten PALI untuk memberikan ruang anggaran (space anggaran) yang lebih berpihak kepada madrasah dan pesantren, mulai dari tingkat dasar, Tsanawiyah, hingga Aliyah.
”Kita akan dorong nanti agar APBD kita ke depan, khususnya di luar tahun 2027, bisa menganggarkan itu secara terstruktur. Sehingga apa yang menjadi harapan Bapak Bupati dan Wakil Bupati dapat berjalan dengan baik,” lanjutnya.
Tidak hanya memberikan janji regulasi jangka panjang, Firdaus juga merealisasikan komitmen instannya melalui dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD. Ia berjanji akan memperjuangkan pembangunan fasilitas fisik di pondok pesantren ini.
”Karena ini masuk dalam daerah pemilihan (dapil) saya, saya akan mencoba menganggarkan di Pokir saya untuk membagi pembangunan di pesantren ini. Paling tidak, kita perjuangkan satu hingga dua lokal Ruang Kelas Baru (RKB) sebagai fasilitas belajar anak-anak kita,” janji Firdaus disambut tepuk tangan para wali murid.
Sementara itu, Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren, Ustadz Muhammad Maryadi, menceritakan kilas balik perjuangan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Pesantren ini mulai dirintis sejak tahun 2006, saat wilayah tersebut masih menginduk ke Kabupaten Muara Enim sebelum pemekaran Kabupaten PALI, dan resmi mendapatkan izin operasional pada tahun 2016.
Di atas lahan berukuran 30 x 60 meter, pesantren ini kini mendidik kurang lebih 160 santri yang tersebar di tiga jenjang pendidikan: SDIT, MTs, dan Aliyah. Kendati terus berkembang, kondisi infrastruktur bangunan saat ini dinilai sudah memerlukan peremajaan total.
”Bangunan yang ada saat ini merupakan peninggalan bantuan dari zaman Pak Kalamudin (mantan pejabat Muara Enim) dan Pak Heri Amalindo. Melihat usia bangunan yang sudah lama, kondisinya memang sudah seharusnya direhab. Tadi kami sudah konsultasi dengan Pak Firdaus agar bangunan ini ditingkatkan menjadi dua lantai dengan memperkokoh tiang dan melakukan sistem dak. Alhamdulillah, beliau setuju,” papar Ustadz Maryadi.
Selain persoalan ruang kelas, Ustadz Maryadi membeberkan tantangan terbesar yang dihadapi ratusan santrinya setiap hari, yakni krisis air bersih. Karena geografis pesantren berada di dataran tinggi, sumber air tanah sangat sulit didapat kecuali dengan pengeboran yang sangat dalam.
”Tantangan paling berat di sini adalah air. Solusi sementaranya harus disuplai menggunakan mobil tangki. Oleh karena itu, kami sangat berharap pemerintah daerah bisa membantu pengadaan armada mobil tangki air untuk pondok,” harapnya.
Menurut Maryadi, bantuan mobil tangki tersebut tidak hanya akan bermanfaat bagi santri, tetapi juga memiliki fungsi sosial kemasyarakatan yang luas. “Kalau pondok punya mobil tangki sendiri, saat kemarau panjang masyarakat sekitar bisa meminjamnya. Bahkan, jika terjadi musibah kebakaran di pemukiman warga, pihak pesantren bisa bergerak cepat membantu memadamkan api. Ini untuk kemaslahatan bersama,” pungkasnya optimis.
Liputan : Rahasmin Sawiran.






