Palembang – Warga Kecamatan Gandus, khususnya di Kelurahan Pulokerto, Kota Palembang, mengeluhkan kondisi Jalan Satria Sungai Musi yang mengalami kerusakan parah meski baru selesai dibangun beberapa bulan lalu. Proyek perbaikan jalan yang menggunakan konstruksi cor beton tersebut diketahui menelan anggaran sekitar Rp2 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Palembang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat, proyek pembangunan jalan tersebut dikerjakan oleh PT Haiba Cahaya Abadi yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat No.15 E, RT 003 RW 008, Kecamatan Kemuning, Palembang. Jalan tersebut dibangun menggunakan metode cor beton dengan tujuan meningkatkan kualitas infrastruktur serta mempermudah mobilitas masyarakat di kawasan tersebut.
Namun, harapan warga untuk memiliki jalan yang lebih baik justru berubah menjadi kekecewaan. Pasalnya, jalan yang baru dibangun pada Juli 2025 itu kini sudah mengalami kerusakan cukup serius. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan karena usia jalan tersebut bahkan belum mencapai satu tahun.
Sejumlah warga menilai kerusakan tersebut terjadi akibat kendaraan berat, khususnya mobil molen atau truk mixer pengangkut beton, yang melintasi jalan tersebut saat proses pengerjaan proyek lain di sekitar lokasi. Padahal, menurut warga, jalan tersebut masih tergolong baru dan seharusnya tidak dilewati kendaraan berat yang berpotensi merusak konstruksi.
Salah seorang warga Pulokerto yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kerusakan jalan mulai terlihat tidak lama setelah kendaraan molen melintasi jalan tersebut secara berulang kali.
“Jalan ini baru dibangun sekitar enam bulan lalu, Pak. Tapi sekarang kondisinya sudah rusak parah karena sering dilewati mobil molen,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (14/12/2025).
Ia menjelaskan, kendaraan molen tersebut digunakan untuk kegiatan pembangunan di sekitar kawasan tersebut. Namun, jalur yang dilalui justru melewati jalan beton yang baru selesai dibangun, sehingga menyebabkan permukaan jalan retak hingga sebagian mengalami kerusakan.
Warga juga mengaku sempat melihat adanya upaya perbaikan yang dilakukan oleh pihak tertentu. Namun menurut mereka, perbaikan tersebut dinilai tidak maksimal dan hanya bersifat sementara.
“Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat malam menuju Sabtu, memang ada mobil molen yang datang untuk memperbaiki. Tapi yang dilakukan hanya menumpahkan sisa-sisa coran saja di bagian yang rusak,” kata warga tersebut.
Menurutnya, cara perbaikan seperti itu tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Bahkan warga khawatir kerusakan jalan akan semakin meluas apabila tidak segera dilakukan perbaikan secara serius dan sesuai standar konstruksi.
Keluhan warga tersebut kemudian ramai dibicarakan di lingkungan sekitar. Banyak masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan evaluasi terhadap proyek tersebut, termasuk meninjau kembali kualitas pengerjaan serta pengawasan selama proses pembangunan berlangsung.
Warga juga berharap agar pihak kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi, mengingat usia jalan yang masih sangat baru. Mereka menilai seharusnya proyek yang menggunakan anggaran miliaran rupiah dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kalau baru beberapa bulan saja sudah rusak seperti ini, tentu masyarakat jadi bertanya-tanya soal kualitas pekerjaannya,” ujar warga lainnya yang turut menyampaikan keluhan.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bina Marga Kota Palembang, Ir Landri, ST., MM., IPM, telah berupaya dikonfirmasi terkait keluhan warga tersebut.
Upaya konfirmasi dilakukan melalui sambungan telepon serta pesan WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai proyek pembangunan jalan tersebut, termasuk terkait kerusakan yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atau klarifikasi terkait persoalan tersebut. Bahkan nomor wartawan yang mencoba melakukan konfirmasi dilaporkan telah diblokir sehingga tidak dapat lagi menghubungi yang bersangkutan.
Kondisi tersebut membuat warga berharap adanya perhatian dari pihak pemerintah kota untuk segera menindaklanjuti permasalahan tersebut. Mereka meminta agar dilakukan pemeriksaan terhadap proyek tersebut guna memastikan apakah pengerjaannya telah sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya transparansi dalam pengelolaan proyek pembangunan infrastruktur yang menggunakan dana publik. Menurut mereka, jalan yang baik dan layak merupakan kebutuhan penting bagi aktivitas warga sehari-hari, terutama untuk menunjang mobilitas dan perekonomian masyarakat setempat.
Apabila kerusakan jalan tidak segera diperbaiki secara menyeluruh, warga khawatir kondisi tersebut dapat membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim hujan ketika permukaan jalan menjadi licin dan berlubang.
Hingga saat ini warga Pulokerto masih menunggu langkah konkret dari pemerintah maupun pihak terkait agar persoalan tersebut dapat segera diselesaikan dan jalan yang rusak dapat diperbaiki secara maksimal.
Laporan: (Ly)
Editor: (Idkandar: 31252)






